Jumat, 09 Januari 2015

Awal Januari, tanggal 6



Adalah tanggal yang berkesan buat saya, bukan karena saya dilamar anak orang atau dapet undian tiga miliar, tapi pada tanggal ini saya dinyatakan lulus dari pendidikan IPS 2010. Wohooo yeaah!
Sidang ini adalah sidang yang gak disangka-sangka. Dari pemberitahuannya yang mendadak banget (pas saya lagi ‘liburan’ di Jakarta) sampe pas liat foto jadwal sidang yang dikirim Dedi ke grup whatsapp. Iya fotonya Dedi bikin syok banget karena saya yang pertama maju sidang! Ap..pah? kenapa pula saya yang pertama L. Di jadwal hari selasa saya sidang barengan sama Ririn (entah kenapa jodoh banget selalu barengan), Riza, Bonar sama Dedi.

Senin, 24 November 2014

photoshop-an

assalamualaikum! huwala warga dunia (maya) whatchu doing? *a la Isabela* saya mau posting tentang malem minggu kemaren yang sungguh menginspirasi. jadi ceritanya itu malam minggu kemaren saya ke rumah temen, si Ririn. yang udah beberapa kali saya ceritain di sini. visi misi kunjungan saya bukan sekedar maen, apalagi minta makan doang. saya ke rumahnya mau belajar. tepatnya belajar photoshop. iya, saya dulu emang ga bisa photoshop, nah kenapa mendadak saya butuh kemampuan ber-photoshop? karena saya baru ngelamar pekerjaan di majalah (bukan dilamar anak orang, huhuu)

Kamis, 13 November 2014

sakit!

saya abis sakit kemaren, seminggu yang lalu karena pergantian musim yang membuat sistem imun melemah dan bikin gampang sakit. itu penyebab umumnya, penyebab khusus kenapa saya bisa sakit adalah karena saya sering gatau diri minum-minumin teh orang yang ada di meja. dalam kasus ini, kemarin saya hobi banget diem-diem ngabisin teh bapak padahal bapak saya lagi sakit panas sama flu. selain ngabisin teh, saya juga ngabisin roti bakar yang dimakan bapak jadi mungkin virus-birus penyakit yang ada di makanan dan minuman tersebut pindah rumah ke badan saya tanpa saya sadari, ya kalo sadar mah saya gak bakalan sakit.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Top 5 - saluran televisi

Ceritanya kayak E! yang punya segmen Top 5 atau Gogirl! yang juga punya Top 5 (dikirim dari pembaca) ini Top 5 versi gw. yang pertama adalah Top 5 saluran televisi karena sejak pasang Indovision gw jadi sering nonton TV hehe

tentang kemarin, tentang kecewa, tentang gak di jarkom.

Saya orangnya gampang nyasar, kayak dulu waktu pertama kali kuliah di UNJ, selama seminggu pertama selalu nyasar padahal dari Cawang ke Rawamangun itu cuma lurus terus belok kiri tapi saya bisa belok sana belok sini sampe Jatinegara, Pulogadung, Senen, bahkan sampe Santorini .. gak deng.
begitu juga pas kemaren, hari dimana semua zonk yang ada di acaranya Uya Kuya bersatu. berawal dari denah alamat yang di kasih temen, saya berangkat ke Kelapa Dua naik motor. iya naik motor. katanya kalo udah ketemu Giant Cimanggis di sebelah kiri jalan, saya disuruh belok kanan terus lurus terus sampe ketemu tempatnya, ternyata sampe di Giant yang dimaksud, Giant nya ada di kanan jalan. saya emang mikir dulu kalo mau ngebedain mana kanan sama kiri. tapi kemaren jelas kalo Giant nya di sebelah kanan. sempet galau saya mesti belok kiri apa belok kanan karena masing-masing ada gang nya. akhirnya tanya ke orang-orang (tapi gak kenalan dulu) saya di kasih tau kalo mau ke Kelapa Dua itu belok kanan. akhirnya mantep belok kanan, terus luruuuuuuuus terus sampe bego masih gak nemu lokasi yang dimaksud. nanya orang lagi dikasih tau suruh lurus terus belok kiri, ngikutin saran tersebut, saya belok kiri. ujung-ujungnya sampe UI. ngerasa salah jalan, saya puter balik, tapi di jalan yang ini pun masih gak nemu alamat yang di maksud. saya capek sendiri, akhirnya gak jadi ke sana karena udah telat. ibaratnya saya udah siap banget berperang, udah bawa panah biar kayak Arjuna, tapi nemu tempat perangnya aja enggak. sakitnya tuh dimana? sakitnya tuh disini.

Selasa, 02 September 2014

obrolan di bawah guyuran hujan

assalamualaikum akhi dan ukhti. udah lamaaaaaa bet kaga posting blog  sehingga ide-ide yang dari kemaren direncanain buat di posting tapi karena males ngetik akhirnya lupa dan topik yang kemaren masih hangat sekarang (mungkin) udah basi. tapi inget kata pepatah 'lebih baik telat daripada tidak sama sekali, karena penyesalan ada di belakang kalo di depan namanya pendaftaran'  jadi mending gw posting aja sekarang.
cerita berawal dari suatu sore yang biasa di Jakarta. waktu itu hujan dan gw baru balik dari pecel lele lela sama feby dan ririn. sebelumnya di pecel lele lela kita udah diskusi tentang detail-detail kecil penyebab kita ga bisa wisuda bulan September (contoh: kurangnya restu dari orang tua)
 kita ngobrolin topik itu selama setengah jam. tiga jam kemudian lanjut ghibah .. gak deng.
selama kita ngobrol itu, tanpa disangka-sangka hujan turun. iya beneran ga ada yang nyangka. apalagi hujan turun begitu derasnya yang bikin para ojeg payung tersenyum bahagia. tapi kita enggak. karena waktu itu udah sore dan kita pengen pulang. akhirnya karena ngerasa hujan bakal lama kita mutusin buat nekad pulang, daripada kemaleman kan.
feby pulang duluan naik transjakarta (itu loh bis yang kemaren baru beli ternyata karatan) sementara gw sama ririn naik metro ke kampus buat ambil motor. sesampainya disana, hujan tambah deres terpaksa gw sama ririn neduh di halte. biasanya sih kita bakal cuek naik motor sambi ujan-ujanan biar kayak anak desa, tapi itu kan dulu, sekarang kita udah ga bisa ujan-ujanan lagi karena faktor U.
selama di halte, daripada anyep kayak cucian basah gw sama ririn ngobrol lagi, tapi semua topik tentang kampus udah habis diomongin pas di pecel lele lela, sementara itu, kita kan gak boleh berghibah waktu hujan turun-inget omongan itu doa dan saat turun hujan adalah saat-saat dikabulkannya doa.-  akhirnya gw sama ririn ngobrolin topik yang lagi anget waktu itu yaitu; (1.) jilboob; (2.) kurikulum 2013; (3.) Tuhan membusuk (sebenernya ga ngomongin ini cuma gw pengen nulis tentang ini aja)

Senin, 14 Juli 2014

Hikayat Harapan Indah



Inilah hikayat tentang dua mahasiswi yang mencari sebuah restu persetujuan. Berangkat jauh-jauh dari bumi rawamangun ke sebuah pulau nun jauh di mato yang bernama harapan indah. Dengan berharap nama harapan indah memang sesuai namanya. Harapan yang indah
Andaikata restu itu semudah membalikan telapak tangan, tak perlulah mereka berpeluh-peluh mengarungi daratan Jakarta. Tapi sayang, restu yang diperoleh dari Ratu adil tak ubahnya sebutir jarum di tumpukan jerami. Sulit didapat
Ada anak kecil bertanya pada bapakya “pak, kenapa dua mahasiswi itu butuh restu dari ratu adil?” untuk mencari kerja nak jawab bapaknya. Ya. Kalau bukan karena perkara perut yang harus diusahakan sendiri di kemudian hari, buat apa pula susah-susah restu dicari?
Demi sebuah restu itu telah berulangkali jalan terjal dilalui kedua mahasiswi. Dimulai darimana cerita ini kumulai kawan? Dari awal kah? Baiklah. Rupanya kau terlau mau tahu. Kepo kalau kata kawula muda masa kini.
Perjuangan dimulai dari menentukan judul kitab yang akan ditulis oleh dua mahasiswi. Kenapa mereka menulis kitab? Tidak lain karena menulis kitab adalah kegiatan iseng sambil menunggu kelulusan (wisuda- peny) hari demi hari (bukan tanoe) dilalui samppai ditemukanlah sebuah jdul yang aduhai bagi kitab kedua mahasiswi tersebut. Lalu dengan kecepatan kilat sambil berguru ke suhu masing-masing kedua mahasiswi mengerjakan kitab sesuai dengan judul.
Tahap pertama selesai? Belum. Jangan senang dulu. Kitab yang baru setengah jalan itu harus diuji di depan master-master yang mumpuni. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, rupanya bagi master-master yang bicara ilmu tak ubahnya meracau itu , judul kedua mahsiswi tersebut kurang semlohai untuk sebuah kitab. Dengan kritik dan saran yang disangka menenangkan hati, para master mengganti judul kitab dua mahasiswi.
Kedua mahasisiwi ingin berteriak di ujung jurang, melampiaskan kemarahan kepada angin agar beban di pundak ini hilang. Ganti judul? Judul yang sudah dipikirkan setengah hidup itu harus diganti begitu saja? Sungguh teganya teganya teganya. Tapi apalah daya kedua mahasiswi ini, dengan berat hati pencarian judul baru (dan isi kitab baru) pun dimulai
Singkat cerita, kedua mahasiswi berhasil medapat judul baru, dan isi baru untuk kitab mereka. Apakah perjuangan selesai? Ya belum dong. Hasil kitab ini rupanya mesti di pamerkan ke ratu adil. Setingkat di atas master yang dulu menguji kitab yang baru setengah jalan. Dan di pemeriksaan ratu adil inilah kedua mahasiswi kembali dibantai.
Rupanya bagi ratu adil, isi kitab kedua mahasiswi tak ubahnya laporan perjalanan. Sebuah tulisan panjang tanpa adanya analisis yang berarti, maka kedua mahasiswi mesti merombak lagi isi kitab yang mereka kerjakan selama setengah tahun ini.
Tahap pemeriksaan pertama tidak ada kemajuan yang berarti untuk kedua mahasiswi, keduanya masih mendapat lampu merah revisi dari ratu adil, tak terima kenyataan kedua mahasiswi pun menangis pilu sambil mengutuki jalan hidup yang dirasanya seberat  dosa penjudi.
Tahap kedua pemeriksaan dijadwalkan pada malam hari, kedua mahasiswi berjanji akan datang bersama ke tempat ratu adil, sambil membawa revisi kitab yang dikerjakan dengan air mata bercucuran.
Petualangan pun dimulai, kedua mahasiswi berangkat dari  pulau Rawamangun pukul setengah lima sore, sementara jam setengah lima adalah saatnya para pencari nafkah kembali ke gubuk dakwahnya. Walhasil kedua mahasiswi terkena kutukan macet yang terus mengintai dari Rawamangun sampai Bekasi. Setelah berjam-jam bertarung dengan jalanan sampailah kedua mahasiswi di bekasi untuk beristirahat dan mengisi energy serta mental sebelum bertemu ratu adil. Kediaman ratu adil memang di bekasi, di harapan indah tepatnya. Tapi kedua mahasisiwi beristirahat di bekasi selatan, sementara harapan indah terletak di bekasi utara. Ya, perjalanan kedua mahasiswi masih jauh panggang dari api.
Selesai mengisi energy, kedua mahasiswi bersiap melanjutkan perjalanan lagi. Sebelumnya mahasisiwi pertama ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu ratu adil, namun hal itu dicegah mahasisiwi kedua dengan alasan ‘kalau dia melihat kita kucel, mungkin dia akan iba dan memberikan restu kepada kita’ benar juga dia, pikir mahasiswi pertama. Maka mereka pun berangkat dengan muka dekil dan baju kusut. Supaya kesannya berjuang banget gitu loh.
Sesampainya disana kutanya semuanya kepada alam, kepada langit, kepada matahari, akankah ratu adil memberikan restunya kepada kedua mahasisiwi? Rupanya ratu adil telah memberi restu. Ini semua karena berkah ramadhan. Bagaimana tidak? Sang ratu langsung memberi restu kepada kedua mahasiswi begitu mereka datang, tanpa pembukaan apalagi penutupan. Restu ratu adil begitu mudah didapat. Subhanallah. Dan tentang muka dekil, ratu adil sempat menanyakan kepada kedua mahasiswi ada apa gerangan? Untunglah dia memperhatikan. Coba kalau tidak, kan sayang sudah jerawatan tapi tidak kelihatan.
Restu dari ratu adil bukan berarti kitab kedua mahasiswi langsung bisa dipersidangkan, masih ada hal-hal yang harus dilewati kedua mahsiswi sebelum bisa membukukan kitabnya. Bagaimanakah kelanjutannya? Kita doakan saja mereka!